Kenali Kelainan Refraksi Sejak Dini Pada Anak

Beranda Sehat – Proses hingga mata dapat melihat tidak semudah yang kita bayangkan. Rangkaian proses panjang bermula di kornea hingga retina ini refraksi. Cahaya yang tadinya tersebar di alam luas ditangkap oleh mata. Kemudian diarahkan menjadi suatu bentuk yang dapat di artikan serta di interpretasikan. Dalam hal terakhir ini, mata tidak bekerja sendirian, tapi dibantu oleh otak sehingga akhirnya jadilah mata dapat melihat.

kelainan refraksi

Akan tetapi setiap unit organ dalam mata mempunyai batas kemampuan bervariasi. Mata dianggap normal bila bentuk setiap unit organ mata ini mengikuti batasan-batasan yang ada dan ukuran variasinya dianggap baik menurut ukuran fisika lensa ( mata diibaratkan sebagai lensa ). Lain halnya bila variasi tersebut tidak sinkron, maka timbul gangguan refraksi. Cahaya yang semestinya terfokus menjadi tidak fokus. Macam-macamnya sering dikenal dengan miopia ( rabun jauh ), hipermetropia ( rabun dekat ), atau presbiopia yang banyak dialami oleh orang tua.

Sebagai contoh, kornea normal memiliki kekuatan untuk memfokuskan suatu obyek 44 dioptri. Andaikan kekuatan 48 dioptri, maka orang tersebut mengalami kelainan refraksi. Selain kemampuan membiasnya lebih kuat, fungsinya pun berlebihan, meski korneanya normal. Kelainan membuatnya menjadi rabun jauh.

Kasus kelainan refraksi ini tidak bisa dianggap sepele. Survei morbiditas ( angka perbandingan orang yang sakit ) yang pernah dilakukan Departemen Kesehatan menunjukkan, kelainan refraksi termasuk gangguan yang paling menonjol dan termasuk dalam deretan penyakit yang terbanyak di Indonesia. Demikian juga di kalangan anak-anak beradarkan hasil suatu survei memberikan hasil 11,67% murid SD menderita kelainan refraksi.

Penyebab Kelainan Refraksi

Sebagian besar penyebab kelainan refraksi sampai saat ini belum dapat di pastikan. Walau sebagian sudah di ketahui karena beberapa faktor. Makanya bila kelainan refraksi dapat diketahui sejak dini, akan sangat membantu dalam penanganannya. Terutama pada anak-anak, penanggulangan secara tepat sangat penting. Kalau tidak, kelainan tersebut akan terbawa terus.

Tidak selalu penderita mengalami gangguan refraksi karena kelainan bentuk atau rupa dari matanya. Yang terbanyak di sebabkan oleh gangguan fungsi  pembiasannya, yang seharusnya kuat menjadi tidak kuat atau sebaliknya.

Kelainan refraksi ada dua macam, yakni kelebihan dan kurang. Keduanya bisa terjadi pada seseorang sejak lahir. Dapat pula karena sesuatu hal lain, sperti trauma ( paling banyak ) dan penyakit. Luka pada kornea sebagai contohnya, atau infeksi pada mata, tekanan cairan mata yang tidak seimbang, pterigium, dan penyebab lainnya.

Tanda-tanda Kelainan

Usaha untuk melacak secara dini kelainan refraksi pada anak-anak sekolah adalah pilihan yang tepat. Dari sini akan terlihat sikap dan cara melihat yang abnormal sebagai tanda dini kelainan refraksi, selain penurunan prestasi belajar.

Untuk memudahkan pengamatan, tanda-tanda seperti anak memicingkan mata ketika melihat jauh, memalingkan kepala agar melihat dengan jelas, menundukkan kepala waktu melihat papan tulis, dan mendekatkan kepalanya pada buku atau obyek lain yang ingin dilihatnya.

Selain tanda-tanda dini diatas, juga ada beberapa tanda tambahan yang dikeluhkan anak. Seperti sakit kepala, suatu obyek terlihat dua ( kabur ), mata berair dan gatal bila terlalu banyak membaca, serta silau. Keluhan yang bisa di amati orang tua di rumah yaitu sikap abnormal anak sewaktu menonton televisi dan segala perangkat yang memakai tabung-tabung CRT sebagai contohnya.

Kelainan refraksi yang belum sempat di ketahui atau belum sempat diketahui atau belum dikoreksi secara tepat sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar anak. Sebabnya, anak tidak dapat belajar secara optimal. Prestasi di kelaspun menjadi melorot. Ini dampak yang paling menonjol pada anak penderita kelainan refraksi.

Penanggulangan Harus Tepat

Sesuai dengan perkembangan kemampuan daya persepsi dan iterpretasi susunan saraf pusat terhadap informasi yang di bawa masuk melalui indera mata dan saraf optik, maka hasil penanggulangan kelainan refraksi pada anak-anak akan sangat tergantung pada usia dimulainya koreksi.

Penemuan secara dini sangat menunjang bagi kelangsungan masa depan anak. Kalau tidak dipantau atau tidak dikoreksi secara baik, maka kelainan ini akan terbawa semasa hidupnya.

Anak mempunyai dua aspek yang harus lebih kita istimewakan di banding dengan usia dewa**sa. Pertama, anak masih dalam masa pertumbuhan. Mata anak dalam masa pertumbuhan sangat membutuhkan perhatian yang cermat. Kalau tidak, anak akan menderita selama hidupnya. Kedua, anak tidak dapat dikontrol atau menjawab, apakah koreksi yang dilakukan sudah baik atau kurang, atau tidak enak. Karena itu, orang tua sebaiknya harus aktif dan mencurahkan banyak waktu dan perhatian pada anak.

Pemberian koreksi optik dengan kacamata secara tepat merupakan jalan keluar yang terbaik bagi penanggulangan kelainan refraksi. Sudah tentu dalam pemberian koreksi harus melihat batas umur selain indikasi pemakaian kacamata sebagai alat bantu lihat. Di samping itu, mengingat rumitnya proses perkembangan penglihatan pada masa anak-anak, sebaiknya penanggulangan gangguan penglihatannya ditangani sendiri oleh dokter spesialis mata.